Rabu, 25 April 2012

Komunikasi Politik dan Politik Komunikasi (Etika Dalam Iklan Politik)


Meskipun masih terbilang baru, di Indonesia yakni pertama kali mucul dalam Pemilu1997, Kemudian makin marak pada selanjutnya. Apalagi menjelang Pilpres sekarang ini, tercatat ada dua kandidat yang sudah mulai beriklan yakni saya dengan pak SBY.
Iklan politik tidaklah sekadar janji dan daya pikat, tetapi mengandung tawaran program, panduan publik, serta menumbuhkan ketulusan dan kepercayaan. Iklan politik adalah strategi image, pendidikan kewarganegaraan, dan strategi politik.



Pada dasarnya tujuan utama dari iklan politik adalah informatif-persuasif, Periklanan politik menginformasikan kepada pemilih bahwa dengan memilih kandidat atau partai tertentu maka kualitas hidup mereka bisa berubah. Selain itu Iklan politik juga dapat menciptakan persaingan antar peserta Pemilu. Iklan politik yang bermanfaat adalah ia dapat memberi perangsangan kepada masyarakat agar menjadi konstituen yang cerdas dan mandiri. Maka, untuk itu iklan politik seharusnya bersifat etis.Nah dari segi etika Komunikasi politik, inilah yang seharusnya menjadi sebuah Perhatian utama iklan politik, yakni memberi sudut pandang bagi para pemilih mengenai apa yang disampaikan oleh partai politik atau seorang kandidat. Namun yang sering terjadi selama ini adalah komersialisasi politik tanpa mengindahkan etika politik. Seperti pemanfaatan teknologi untuk memanipulasi diri demi tampilan palsu atau teknik editing (penyuntingan, berupa penambahan atau pengaturan naskah atau pengubahan dan penyusunan kembali suatu adegan untuk menciptakan impresi palsu, dramatisasi visual, penampilan, make-up, warna rambut, kilauan senyum manipulasi teknologis tersebut menghalangi kemampuan informed electorate untuk membuat pilihan rasional.
Jika melihat dalam konteks indonesia, ada keunikan tersendiri di dalam iklan politiknya yang berbeda dengan negara lain yaitu permainan ”Kata” dan itu memang menjadi suatu bagian dari masyarakat dengan tradisi lisan yang kuat. Hal inilah yang jarang diperhatikan oleh para konsultan politik, yang selalu menyamakan kondisi sosio budaya masyarakat ini sama dengan kondisi sosio budaya masyarakat yang ada di amerika ataupun Eropa. Sehingga dalam membuat startegi kampanye acap kali melakukan kekeliruan dalam menerapkan strateginya.


Saya pernah ditanya oleh salah satu media TV mengenai tanggapan saya atas kemengan Obama sebagai Presiden Amerika saat itu saya mengatakan ”kita tidak bisa serta merta mencaplok strategi pemengangan Barrack Obama untuk diterapkan di Indonesia, karena kondisi masyarakat di sini sangat jauh berbeda dengan kondisi Masyarakat di Amerika Serikat”. Dalam artian bisa saja apa yang di luar negeri dianggap bagus, bisa saja di Indonesia justru mendapat cemooh, dan lain lain.
Nah sekarang, bagaimanakah sebenarnya Typologi daripada Iklan politik, atau ragam Iklan politi. Kalau mau ditarik garis besarnya, Ada tiga cara dalam iklan dalam berkomunikasi yaitu tiga cara menyampaikan pesan secara positif, negatif dan black campaign.
Pada tahapan iklan positif biasanya para pemasang iklan menyerukan agar dia dipilih karena sejumlah program dan kepribadian yang electability. Negatif campaign adalah seruan ajakan agar masyarakat memilih kandidat atau Parpol dikarenakan pesaingnya lemah atau buruk. Untuk iklan jenis ini biasanya dilakukan oleh mereka yang bukan incumbent. Dan Kemudian black campaign adalah iklan politik yang bersifat fitnah, dalam artian apa-apa yang disampaikan tidak berdasarkan pada kebenaran yang nyata, atau juga pembohongan Publik yakni melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan namun dilakukannya demi kebutuhan beriklan. misalnya Mengunjungi daerah-daerah terpencil, berpelukan dengan masyarakat-masyarakat di sana.
Iklan poltik selayaknya fokus pada suatu isu, terdapat time frame diikuti degan track record. Dan jelas posisinya apakah attacking atau contracting. Mengingat fungsi Iklan adalah sarana untuk menyampaikan subtansi. Dan Iklan harus diiringi dengan tindaklan konkrit di lapangan, apa yang telah dan akan dilakukan.
Dalam iklan harus ada accoutability yang mana masyarakat harus benar-benar merasakan apakah aspirasinya terwakili oleh partai atau kandidat yang beriklan. Untuk mengetahui apakah iklan tersebut accountibility atau tidak ini hanya dapat ditentukan pada saat masyarakat memberikan suaranya di bilik suara nanti.


Akuntabilitas bisa dibangun melalui janji-jani konkrit yang bisa dijewantahkan dalam kerja nyata. Untuk itu setiap Patpol dan kandidat haruslah berhati hati dalam menyampaikan pesan-pesan politiknya sebab hal tersebut bisa menjadi bumerang apalagi janji ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.
Bagaimana pun, jika tujuan kampanye adalah untuk membentuk pemilih yang berpengetahuan, maka kampanye harus berlandaskan kebenaran.
Namun demikian, melalui Iklan saja tentu itu bukan jaminan akan terpilihnya seorang kandidat. Bagaimanapun menemui langsung pemilih di lapangan masih merupakan suatu hal yang penting, apalagi di tengah anomali masyarakat yang tidak begitu percaya lagi denganj partai atau politisi, maka dengan menemui mereka langsung di lapangan paling tidak bisa sedikit membangkitkan kepercayaan masyarakat terhadap kandidat ataupun parpol.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar